Skip to content

6 Des – Bar 5:1-9; Flp 1:4-6.8-11; Luk 3:1-6

5 Desember 2009

"Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu”

Mg Adven II : Bar 5:1-9; Flp 1:4-6.8-11; Luk 3:1-6

“Perhatian…perhatian….umat dimohon tenang, karena acara akan segera dimulai..!!!”, demikian suara keras dari pengeras suara di lapangan rumput untuk mengingatkan ribuan umat. Umat pun tidak tenang dan tetap gaduh omong-omong sendiri. Hal senada dapat terjadi dalam berbagai pertemuan, dimana protokol atau pembawa acara mengajak para hadirin tenang, tetapi hadirin tetap gaduh, omong-omong terus. Sebaliknya di suatu tempat, lapangan rumput, dimana ribuan umat hadir untuk perayaan ekaristi, yang semula gaduh, ramai, omong-omong sendiri, begitu mendengar melalui pengeras suara “Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”, maka ribuan umat pun hening, tak bergeming. Tanda salib yang diiringi dengan kata-kata “Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus” merupakan awal doa bagi umat Katolik dan juga mengiringi pembaptisan ketika pembaptis mencurahkan air di dahi terbaptis. Dengan dan melalui tanda salib sungguh terjadi perubahan alias pertobatan, maka marilah di masa adven ini kita renungkan seruan Yohanes Pembaptis, yang mengajak orang untuk bertobat dan dibaptis.

"Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Luk 3:3)

Bertobat berarti memperbahaui diri. Saat ini kita masih dalam masa Tahun Baru Liturgy, masa Adven, dan sebentar lagi kita akan memasuki Tahun Baru 2010, maka marilah kita mawas diri apakah terjadi pembaharuan dalam diri kita masing-masing. Organ atau anggota tubuh kita kiranya diperbaharui terus menerus, demikian pula aneka macam sarana dan assesori yang terkait dengan tubuh kita, tetapi bagaimana dengan hati, jiwa dan akal budi? Pembaharuan yang diharapkan adalah pembaharuan hati, jiwa, dan akal budi, yang sangat berpengaruh dalam cara hidup dan cara bertindak kita, mengingat dan memperhatikan bahwa aneka tantangan, hambatan dan masalah telah mengaburkan atau melemahkan hati, jiwa dan akal budi kita.

Marilah pertama-tama kita sadari dan hayati bahwa bertambah usia dan pengalaman berarti juga bertambah dosa dan kekurangan, yang membuat hati, jiwa dan akal budi maupun tubuh kita kurang bersih. Pembaharuan dengan demikian berarti pembersihan, yang mungkin menjadi masalah adalah apakah saya tahu persis apa yang harus dibersihkan alias dosa dan kekurangan kita, tanpa bantuan orang lain. Kita butuh bantuan orang lain agar dapat mengetahui dosa dan kekurangan kita dengan tepat dan benar, sehingga pembersihan atau pembaharuan yang kita lakukan sungguh berarti dan bermakna. Maka baiklah di masa Adven ini kita saling bertemu, bercakap-cakap dan mawas diri bersama: masing-masing dengan rendah hati siap sedia menerima masukan atau informasi dari yang lain, lebih-lebih dalam hal dosa dan kekurangan.

Berilah dirimu dibaptis”, demikan sabda Yesus. Dibaptis berarti dibersihkan, maka masing-masing dari kita hendaknya siap sedia untuk dibersihkan orang lain, sebaliknya yang membersihkan hendaknya dijiwai kasih pengampunan, sehingga tindakan pembersihan menyenangkan dan membahagiakan atau menyelamatkan. Membersihkan dijiwai kasih pengampunan berarti sebelum bertindak ada pendekatan dan percakapan bersama, karena gerakan pembersihan tanpa tanggapan positif dari yang dibersihkan akan sia-sia, pemborosan waktu dan tenaga belaka. Siap sedia dibersihkan berarti juga siap sedia untuk berkorban dan ‘sakit’ sebagai langkah pembaharuan hidup atau penyembuhan. Mengingat dan memperhatikan semakin tua atau tambah usia dan pengalaman berarti juga semakin tambah dosa dan kekurangan, maka kami berharap kepada mereka yang lebih tua dan lebih berpengalaman dapat menjadi teladan dalam hal pembersihan diri atau pembaharuan diri, misalnya: para orangtua, pendidik/guru, pejabat, atasan, senior, dst..

Aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Fil 1:6)

Siap sedia untuk dibersihkan maupun membersihkan hendaknya dihayati sebagai anugerah Tuhan atau karya Tuhan, maka marilah kita imani bahwa “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus”. Maka ketika sudah memulai pekerjaan baik hendaknya setia terus menerus melakukannya. Setia berarti tidak mengurangi sedikitpun atas perbuatan baik yang telah dilakukan, syukur bertambah atau diperdalam dan disebarluaskan. Marilah kita imani atau hayati bahwa jika Tuhan memulai pasti menyelesaikan, meskipun kita harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah, karena Tuhan maha segalanya.

Kita semua dipanggil untuk melakukan pekerjaan baik sampai pada hari Kristus Yesus, artinya sampai kita dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. “Semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus” (Fil 1:9-10). Semakin tambah usia dan pengalaman diharapkan semakin hidup mengasihi yang ditandai dengan melimpahnya pengetahuan dan pengertian yang benar. Dalam hidup bersama saat ini kita menghadapi aneka kepalsuan dan kebohongan, misalnya dalam hal hukum atau aturan, makanan dan minuman, aneka macam sarana-prasarana maupun organ tubuh manusia. Pemalsuan nilai juga terjadi di sekolah-sekolah dengan motivasi uang, gengsi, prestasi dst.. Memang kita menghadapi apa-apa yang baik dan buruk, dan kita dipanggil untuk memilih apa yang baik dan memperbaiki apa yang buruk, maka baiklah kita renungkan juga apa yang dikatakan oleh Kitab Barukh di bawah ini. .

Allah memerintahkan, supaya diratakanlah segala gunung yang tinggi dan segenap bukit abadi, dan supaya ditimbuslah sekalian jurang menjadi tanah yang rata” (Bar 5:7). Yang dimaksudkan dengan gunung dan bukit di sini adalah apa saja yang mengganggu atau menghalangi dalam perjalanan hidup, tugas dan panggilan, entah berupa aturan, kebijakan, struktur, impian/harapan, dst.. , yang sering membuat apa yang sederhana menjadi berbelit-belit, yang mudah dipersulit. Aneka aturan, kebijakan, struktur atau strategi hendaknya memperlancar perjalanan hidup, tugas dan panggilan, maka jika ada yang mempersendat atau bahkan menutup jalan hendaknya segera diperbaiki atau ‘diratakan’. Pada saat ini sering masih banyak terjadi birokrasi yang menghambat pelayanan, bukan memperlancar pelayanan, sehingga birkrat minta dilayani bukan melayani. Sikap dan perilaku dalam meratakan atau memperbaiki adalah melayani; bukankah yang disebut pelayan pada umumnya memperlancar dan mempermudah, tidak pernah mempersulit dan berbelit-belit? Semoga para petinggi, pejabat, birokrat atau atasan dapat menjadi teladan sikap hidup dan perilaku melayani; dan marilah kita dukung dambaan para pemimpin Gereja Katolik, Para Uskup dan Paus, yang senatiasa menyatakan diri dalam doa Syukur Agung sebagai hamba yang hina dina, artinya siap sedia melayani umat Allah. Dukungan yang diharapkan tentu saja tidak cukup dengan doa-doa, tetapi juga dengan penghayatan, yaitu hidup dan bertindak saling melayani.

“TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.”(Mzm 126:3-6)

Jakarta, 6 Desember 2009

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: