Skip to content

1 Des -Yes 11:1-10; Luk 10:21-24

30 November 2009
tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

“Semuanya itu Engkau nyatakan kepada orang kecil

(Yes 11:1-10; Luk 10:21-24)

“Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu." Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya." (Luk 10:21-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta Beato Dionisius dan Beato Redemptus, biarawan dan martir Indonesia, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Para petinggi atau atasan pada umumnya merasa puas telah menerima laporan dari bawahan atau anggotanya, sebagaimana tertulis dalam laporan kegiatan/kerja, dan dengan demikian lebih melihat secara ‘umum’ daripada ‘detil’, apalagi jika petinggi atau atasan yang bersangkutan tidak pernah atau jarang ‘turba’, turun ke bawah, untuk melihat dan mencermati kenyataan yang ada. Hal yang demikian itu pernah terjadi, ada contoh konkret: seorang sarjana tehnik bangunan kalah bijak dan terampil dibandingkan dengan para pekerja alias ‘tukang batu’, yang tidak pernah lulus pendidikan dasar. “Semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil”, demikian sabda Yesus, yang sebaiknya kita renungkan di masa adven ini. Kita dipanggil untuk memperhatikan yang kecil, entah dalam hal jabatan, kedudukan, kekayaan, usia, kepandaian, dst.., maka baiklah secara konkret saya mengajak dan mengingatkan pentingnya memperhatikan anak-anak kecil/balita dan mereka yang miskin dan berkekurangan dalam hal harta benda atau uang. Untuk memperhatikan mereka ini memang dibutuhkan keutamaan-keutamaan khusus maupun pengorbanan; keutamaan-keutamaan itu antara lain sabar, lembah lembut, teliti, tekun, pemaaf, ceria dst.., sedangkan pengorbanan antara lain waktu, tenaga maupun harta benda/uang. Ketika kita mampu memperhatikan dan melayani mereka yang kecil, miskin dan berkekurangan tersebut dengan ‘turba’, maka segala kebijakan yang kita ambil akan lebih membahagiakan dan menyelamatkan daripada hanya menerima laporan berupa kertas atau kata-kata lisan. Marilah ‘membumi’, menunduk, melihat ke bawah, agar kita siap sedia untuk menyambut Allah yang ‘membumi’, lahir sebagai manusia hina seperti kita kecuali dalam hal dosa.

· “Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.”(Yes 11:2-3), demikian penglihatan Yesaya perihal Penyelamat Dunia yang kita songsong pesta/kenangan akan kelahiranNya. Kutipan dari Yesaya ini selayaknya menjadi bahan permenungan atau refleksi kita di masa adven ini. Apakah kita takut akan Tuhan? Bagaimana sikap kita terhadap orang lain atau sesama kita, apakah menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang? Sekali lagi kami ingatkan kepada para petinggi atau atasan, hendaknya tidak menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan atau membuat kebijakan menurut kata orang, melainkan sesuai dengan tuntutan keadilan dan kejujuran. Keadilan paling dasar adalah hormat terhadap harkat martabat manusia atau menjunjung tinggi harkat martabat/hak-hak asasi manusia, sedangkan “jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 17). Para petinggi atau atasan hendaknya tidak begitu saja percaya pada kata orang, tetapi lihatlah dan cermati kenyataan dengan adil dan jujur, agar dapat mengambil keputusan atau kebijakan yang menyelamatkan dan membahagiakan. Dengan kata lain para petinggi atau atasan kami harapkan dapat menjadi teladan atau contoh dalam cara hidup dan cara bertindak yang adil dan jujur dengan membumi, perhatian kepada mereka yang kecil, miskin dan berkekurangan.

“Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan! Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi .. Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin

(Mzm 72:7-8.12-13)

Jakarta, 1 Desember 2009

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: