Skip to content

30 Nov – Rm 10:9-18; Mat 4:18-22

29 November 2009

“Kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

(Rm 10:9-18; Mat 4:18-22)

“Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.(Mat 4:18-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Andreas, rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

• Ada tiga jenis karya pelayanan pastoral utama dalam Gereja, yaitu: pendidikan, sosial dan kesehatan. “Stake-holder’ atau yang menjadi subyek utama dalam ketiga pelayanan pastoral tersebut ialah manusia, namun dalam kenyataan di lapangan sering lebih diutamakan harta benda atau uang, dengan kata lain mengelola dan mengurus karya-karya pendidikan, sosial dan kesehatan dengan semangat materialistis atau bisnis. Dalam rangka mengenangkan pesta St.Andreas, rasul, ini kita diingatkan bahwa dalam berbagai pelayanan pastoral hendaknya diutamakan manusia, bukan harta benda atau uang, maka mayoritas dana atau beaya hendaknya tercurah pada kepentingan manusia, demikian juga karya-karya pelayanan tersebut dikelola dan diurus secara manusiawi. Maka hendaknya siapapun yang mempercayakan diri untuk dilayani dalam pelayanan-pelayanan pastoral tersebut diperhatikan sedemikian rupa, sehingga mereka terkesan, terharu dan terpikat pada pelayanan kita, dan dengan demikian setelah mereka menikmati pelayanan akan menjadi `tenaga marketing atau pemasaran’ sukarela karya-karya pelayanan kita. Sebagai contoh: mereka yang telah belajar di sekolah yang kita kelola setelah lulus akan berceritera kepada sahabat dan kenalannya perihal pelayanan yang telah diterima dan pasti menganjurkan mereka untuk belajar di sekolah kita, para pasien yang dirawat di rumah sakit dan keluarganya setelah menerima pelayanan kesehatan yang baik akan berceritera kepada sahabat dan kenalan serta mengajak mereka jika berobat hendaknya di rumah sakit yang kita kelola, dst..Untuk itu memang rekan-rekan pegawai (guru, staf kependidikan, dokter, perawat dst..) diharapkan hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga cara pelanannnya dijiwai keutamaan-keutamaan “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23)

• “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik” (Rm 10:15). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita, entah apapun pekerjaan atau yang kita lakukan. Kemana kita pergi atau dimana kita berada diharapkan menjadi `kabar baik’ dan menjadikan lingkungan hidup yang kita datangi atau dimana kita berada semakin baik, damai sejahtera, menarik dan memikat banyak orang. Memang untuk itu berarti masing-masing dari kita harus baik, menarik, memikat dan mempesona, bukan karena kecantikan atau ketampanan, bukan karena pakaian dan assosori yang kita kenakan, melainkan karena kita sungguh berbudi pekerti luhur, yang antara memiliki ciri-ciri: “bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet ” (Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997).Maka dengan ini kami mendambakan agar anak-anak sedini mungkin didalam keluarga dibina dan dibiasakan dalam hal ciri-ciri budi pekerti luhur tersebut dan tentu saja dengan teladan konkret orangtua; demikian juga di sekolah-sekolah hendaknya ciri-ciri budi pekerti luhur di atas menjadi perhatian utama.

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari”(Mzm 19:2-5)

Jakarta, 30 November 2009

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: