Skip to content

24 Nov – Dan 2:31-45; Luk 21:5-11

23 November 2009

"Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan”

(Dan 2:31-45; Luk 21:5-11)

“Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus:"Apa yang kamu lihat di situ — akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan." Dan murid-murid bertanya kepada Yesus, katanya: "Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?" Jawab-Nya: "Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka. Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera." Ia berkata kepada mereka: "Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.”(Luk 21:5-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Andreas Dung Lac, imam dan kawan-kawan, para martir Vietnam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Pada hari-hari terakhir tahun Liturgy ini kepada kita dihadapkan bacaan-bacaan yang mengerikan, sebagaimana diwartakan hari ini: ada gejala atau peristiwa dahsyat baik di bumi maupun di langit, peristiwa-peristiwa yang menghancurkan dan memecah belah kehidupan bersama maupun lingkungan hidup. Jika mencermati peristiwa yang demikian itu orangpun bertanya-tanya: “apakah ini tanda-tanda akhir xaman atau kiamat, apa dosa manusia sehingga terjadi musibah dan bencana alam bertubi-tubi”. Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan”, demikian sabda Yesus menanggapi pertanyaan perihal akan terjadinya peristiwa dahsyat yang akan menghancurkan bumi seisinya. Bumi seisinya termasuk manusia memang akan hancur dan musnah, namun jiwa akan abadi dan tak akan mati, maka marilah di hari-hari terakhir tahun Liturgy ini kita mawas diri perihal keselamatan jiwa. Keselamatan jiwa hendaknya menjadi tolok ukur atau barometer keberhasilan aneka kegiatan, usaha atau pelayanan. Apakah dalam aneka kegiatan, usaha dan pelayanan yang telah kita lakukan jiwa kita senidiri semakin selamat serta semakin banyak jiwa diselamatkan? Martir adalah orang yang rela mengorbankan tubuhnya demi keselamatan jiwa. Menghayati jiwa kemartiran masa kini berarti lebih memperhatikan manusia daripada harta benda, aneka jabatan, kedudukan dst, lebih memperhatikan jiwa daripada tubuh. Jika hal itu diaplikasikan dalam bidang pendidikan, entah formal maupun informal, berarti lebih memperhatikan dan mengutamakan budi pekerti atau nilai-nilai kehidupan dari nilai mata pelajaran, lebih mengusahakan kesucian daripada kepandaian.

· “Pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya, tepat seperti yang tuanku lihat, bahwa tanpa perbuatan tangan manusia sebuah batu terungkit lepas dari gunung dan meremukkan besi, tembaga, tanah liat, perak dan emas itu. Allah yang maha besar telah memberitahukan kepada tuanku raja apa yang akan terjadi di kemudian hari; mimpi itu adalah benar dan maknanya dapat dipercayai.”(Dan 2:44-45). Kerajaan Allah memang akan “tetap untuk selama-lamanya’, maka jika kita beriman kepada Kerajaan Allah atau Allah yang meraja kitapun juga akan hidup selama-lamanya, artinya setelah meninggal dunia akan hidup mulia di sorga bersama Allah Pencipta untuk selama-lamanya. Yang penting dan tak boleh dilupakan selama masih hidup di dunia ini adalah apakah kita senantiasa dikuasai atau dirajai oleh Allah, sebagai yang beriman pada Yesus Kristus apakah saya menghayati sabda dan ajaranNya serta meneladan cara hidup dan cara bertindakNya? Dengan kata lain apakah kita tetap setia pada janji-janji atau kaul yang pernah kita ikrarkan, tidak pernah menyeleweng atau berselingkuh? Tantangan untuk setia pada panggilan dan tugas pengutusan memang banyak dan berat, dan hanya bersama dan bersatu dengan Allah kita akan mampu mengatasi atau menghadapi tantangan-tantangan yang menghadang di perjalanan hidup kita. Dengan kata lain dengan tetap berbudi pekerti luhur dan hidup baik, kita tak akan tergoyahkan oleh aneka rayuan setan atau pergolakan-pergolakan kehidupan.

“Pujilah Tuhan, hai segala buatan Tuhan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala malaekat Tuhan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segenap langit, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala air di atas langit, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala tentara Tuhan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya” (Dan 3:57-61)

Jakarta, 24 November 2009

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: