Skip to content

23 Nov – Dan 1:1-6.8-20; Luk 21:1-4

22 November 2009

“Janda ini memberi dari kekurangannya bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."

(Dan 1:1-6.8-20; Luk 21:1-4)

“Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. LaluIa berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya." (Luk 21:1-4), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrfleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Suatu pengalaman konkret terjadi dalam pelayanan di rumah duka St.Carolus – Jakarta: ada orang kaya dan orang yang dilayani dalam hal pemakaman salah seorang anggota keluarganya. Si kaya begitu penuh perhitungan kalau tidak boleh dikatakan pelit dalam hal uang, padahal minta pelayanan sebaik mungkin, serta cukup rewel alias merepotkan para pegawai. Sementara itu si miskin memang harus dibantu dalam hal beaya atau keuangan, meskipun ia telah menguras kekayaannya bahkan masih punya pinjaman, dan ia senantiasa bersyukur dan berterima kasih atas pelayanan yang telah diterimanya. Jika diukur secara nominal jumlah uang yang dikeluarkan oleh si kaya memang lebih besar dari si miskin, namun jika dilihat secara faktual si miskin lebih besar pengorbanannya daripada si kaya. Itulah kenyataan yang mengesan bagi saya, dan mungkin contoh tersebut boleh menjadi cermin kehidupan masyarakat kita: semakin kaya semakin penuh perhitungan dan pelit serta ada kecenderungan untuk sombong dan egois. Sabda hari ini mengingatkan kita semua perihal persembahan atau pengorbanan diri bagi Allah dan sesama. Persembahan yang benar adalah ‘memberi dari kekurangan’, bukan kelebihan; sedangkan memberi dari kelebihan berarti membuang sampah alias menjadikan si penerima sebagai tempat sampah alias melecehkan atau merendahkan yang lain. Sabda hari ini mungkin baka kita refleksikan dalam hal pemafaatan waktu: orang yang merasa kaya akan waktu pada umumnya pelit membaktikan diri pada yang lain dan kurang setia melaksanakan tugas utamanya, sebaliknya orang yang merasa kurang waktu pada umumnya lebih membaktikan diri kepada orang lain maupun tugas utamanya. Semakin merasa kurang waktu pada umumnya orang dengan sungguh-sungguh mengerjakan tugasnya, sehingga yang bersangkutan juga semakin banyak tugas yang harus dikerjakan, meskipun demikian semuanya selesai atau suskses. Maka marilah kita tidak pelir dalam hal waktu, tenaga maupun harta benda/uang: semuanya adalah anugerah Allah, maka semuanya selayaknya difungsikan secara sosial.

· “Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari. Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja” (Dan 1:14-15). Kutipan ini berbicara masalah makanan dan minuman yang sehat dan baik. Ada rumor: orang-orang desa umurnya lebih panjang daripada orang-orang kota, meskipun orang-orang desa miskin. Mengapa? Orang-orang desa pada umumnya cukup banyak berjalan kaki setiap hari, menyantap jenis makanan yang sehat dan segar alias alami, dst.., sebaliknya orang-orang kota dan kaya pada umumnya malas berjalan kaki, menyantap jenis makanan yang berkolesterol tinggi, mengandung obat pengawet yang mematikan, dst… Baiklah saya tidak akan terlalu membedakan desa dan kota atau kaya dan miskin, tetapi marilah kita semua memperhatikan kesehatan dan kebugaran tubuh kita masing-masing, antara lain dengan menyantap makanan dengan pedoman “empat sehat lima sempurna”, cukup berolahraga yang sesuai dengan usia, bekerja dan istirahat teratur, dst.. Ketika tubuh kita sehat dan segar bugar, maka kita juga akan lebih mudah membaktikan diri bagi orang lain serta banyak tugas pekerjaan, sebaliknya jika kita sakit-sakitan dengan sendirinya akan menjadi beban bagi orang lain serta kurang dapat membaktikan diri bagi sesama.. Kami berharap agar anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga dibiasakan hidup sehat dan tentu saja dengan teladan konkret dari orangtua/bapak-ibu. Gerakan preventif lebih murah daripada gerakan kuratif, memang gerakan preventif lebih membutuhkan pengorbanan dan perjuangan terus menerus, sehingga pengorbanan dan perjuangan menjadi kenikmatan bukan beban.

"Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah nenek moyang kami, yang patut dihormati dan ditinggikan selama-lamanya. terpujilah nama-Mu yang mulia dan kudus, yang patut dihormat dan ditinggikan selama-lamanya. Terpujilah Engkau dalam Bait-Mu yang mulia dan kudus, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya. Terpujilah Engkau di atas takhta kerajaan-Mu, Engkau patut dinyanyikan dan ditinggikan selama-lamanya. Terpujilah Engkau yang mendugai samudera raya dan bersemayam di atas kerub-kerub, Engkau patut dihormat dan ditinggikan selama-lamanya.Terpujilah Engkau di bentangan langit, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya”(Dan 3:52-56)

Jakarta, 23 November 2009

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: