Skip to content

19 Nov – 1Mak 2:15-29; Luk 19:41-44

18 November 2009

“Engkau tidak mengetahui saat bilamana Allah melawat engkau”

(1Mak 2:15-29; Luk 19:41-44)

“Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”(Luk 19:41-44), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Orang yang begitu sibuk alias memboroskan waktu dan tenaganya untuk hal-hal materi, bisnis atau uang pada umumnya dengan mudah melupakan hidup doa, rohani atau spiritual sebagai bagian hidup beriman atau beragama. Gairah untuk memperoleh keuntungaan uang atau harta benda begitu menguasai dirinya, sehingga sering kurang peka akan tanda-tanda zaman atau gejala kehidupan, sebagaimana terjadi pada krisis moneter yang melanda dunia tahun lalu. Sabda Yesus hari ini mengingatkan kita semua pentingnya memberi waktu dan tenaga untuk hidup doa, rohani atau spiritual guna menyadari dan menghayati kehadiran dan karya Tuhan di dalam hidup sehari-hari. Salah satu cara untuk itu antara lain dengan mengadakan ‘pemeriksaan batin’ setiap hari; ingat pemeriksaan batin adalah bagian dari doa harian, yaitu doa malam menjelang istirahat/tidur malam. Pemeriksaan batin bukan hanya untuk melihat dan mengakui dosa-dosa, tetapi lebih-lebih untuk melihat, merasakan, mengenangkan dan menghayati kehadiran dan karya Tuhan atau penyelenggaraan Tuhan dalam diri kita serta tanggapan kita, yang dalam bahasa lain disebut “spiritual discernment”, yang berarti pembedaan roh. Dalam pemeriksaan batin kita diharapkan dapat melihat karya roh baik dan roh jahat, yang mungkin kita rasakan dalam kecenderungan-kecenderungan. Kami percaya bahwa masing-masing dari kita lebih banyak apa yang baik daripada yang buruk atau jahat, maka jika kita sungguh dapat memeriksa batin kita masing-masing maka kita akan dapat melihat dan menikmati penyelenggaraan Tuhan dalam diri kita, Tuhan yang melawati kita. Mereka yang jarang atau tidak pernah mengadakan pemeriksaan batin kiranya pada suatu saat akan terkejut ketika terjadi musibah yang menimpa dirinya.

· "Kalaupun segala bangsa di lingkungan wilayah raja mematuhi seri baginda dan masing-masing murtad dari ibadah nenek moyangnya serta menyesuaikan diri dengan perintah-perintah seri baginda, namun aku serta anak-anak dan kaum kerabatku terus hendak hidup menurut perjanjian nenek moyang kami. Semoga Tuhan mencegah bahwa kami meninggalkan hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan. Titah raja itu tidak dapat kami taati dan kami tidak dapat menyimpang dari ibadah kami baik ke kanan maupun ke kiri!"(1Mak 2:19-22), demikian kata Matatias kepada sang raja. Apa yang dikatakan oleh Matatias ini baik menjadi permenungan kita, lebih-lebih kata-katanya “Semoga Tuhan mencegah bahwa kami meninggalkan hukum Taruat Tuhan serta peraturan-peraturan Tuhan”. Ketika kita akan meninggalkan peraturan atau perintah Tuhan alias berbuat dosa atau jahat, sebenarnya penyegahan dari Tuhan terjadi, antara lain ada perasaan kurang atau tidak enak di hati atau kurang aman. Memang jika orang telah terbiasa berbuat jahat atau berdosa tidak akan peka lagi terhadap pencegahan Tuhan tersebut, tetapi bagi orang cukup baik dan berbudi pekerti luhur ketika akan melakukan apa yang tidak baik atau dosa pasti merasa diperingatkan atau dicegah oleh Tuhan. Bagi orang baik ketika ada desakan atau ajakan untuk berbuat jahat atau berdosa akan merasa ‘sesak hatinya’. Marilah dalam hidup sehari-hari kita melatih dan membiasakan diri terus menerus ‘taat pada perintah Tuhan’ , yang bagi kita semua berarti taat pada aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita. Jika kita terbiasa taat dan setia pada aturan dan tatanan yang kelihatan, sebagaimana terpampang di tempat-tempat umum, jalanan, kantor, dst.., kiranya dengan mudah kita taat dan setia pada kehendak Tuhan atau bisikan-bisikan Roh Kudus. Ketaatan dan kesetiaan pada apa yang kelihatan di satu sisi merupakan bentuk perwujudan ketaatan dan kesetiaan pada kehendak Tuhan dan di sisi lain semakin membuat diri kita setia dan taat kepada kehendak Tuhan.

“Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi! Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku." (Mzm 50:14-15)

Jakarta, 19 November 2009

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: