Skip to content

12 Nov – Keb 7:22-8:1; Luk 17:20-25

11 November 2009

“Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu."

(Keb 7:22-8:1; Luk 17:20-25)

“Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. TetapiIa harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini” (Luk 17:20-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yosafat, Uskup dan Martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Kerajaan Allah berarti Allah yang meraja, yang berkarya terus-menerus dalam ciptaan-ciptaanNya di dunia ini. Segala sesuatu yang ada di dunia ini ada, hidup, tumbuh dan berkembang hanya karena dan oleh Allah, tanpa Allah tidak ada kehidupan di dunia ini. Maka ketika Yesus ditanyai oleh orang-orang Farisi perihal tanda-tanda Kerajaan Allah datang, Ia antara lain menjawab: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.". Marilah kita imani Allah yang meraja dalam ciptaan-ciptaanNya, dalam diri kita sebagai manusia, ciptaan terluhur di dunia ini, dalam aneka tanaman maupun binatang serta peristiwa kehidupan di sekitar kita. Menghayati karya Allah di dunia, dalam ciptaan-ciptaanNya, pada masa kini rasanya boleh dikatakan juga sebagai salah satu bentuk penghayatan kemartiran atau kesaksian iman, antara lain secara konkret senantiasa melihat dan mengimani apa-apa yang baik, indah, luhur dan mulia dalam ciptaan-ciptaanNya dan tentu saja pertama-tama dan terutama dalam sesama manusia. Dengan kata lain kita dipanggil untuk berpikiran positif (‘positive thinking’) . Jika kita cermat dan jujur melihat apa-apa yang terjadi di lingkungan hidup kita, hemat saya lebih banyak apa yang baik, indah, luhur dan mulia daripada apa yang buruk, amburadul, jorok dan remeh. Memang untuk senantiasa berpikiran positif kita akan menghadapi tantangan maupun hambatan, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang cenderung berpikiran negatif, lebih suka melihat dan memberitakan kelemahan, kekurangan dan dosa orang lain, sebagaimana terjadi dalam ‘ngrumpi’.

· “Di dalam dia ada roh yang arif dan kudus, tunggal, majemuk dan halus, mudah bergerak, jernih dan tidak bernoda, terang, tidak dapat dirusak, suka akan yang baik dan tajam, tidak tertahan, murah hati dan sayang akan manusia, tetap, tidak bergoyang dan tanpa kesusahan, mahakuasa dan memelihara semuanya serta menyelami sekalian roh, yang arif, murni dan halus sekalipun” (Keb 7:22-23). Yang dimaksudkan dengan ‘dia’ adalah kebijaksanaan. Mungkin di antara kita tidak ada satupun yang bijaksana, melainkan hanya ‘bijak’, sesuatu yang terbatas. Dari ciri-ciri kebijaksanaan di atan mungkin yang baik kita renungkan atau refleksikan masa kini adalah ‘murah hati dan sayang akan manusia’. Murah hati berarti hatinya dijual murah, memberi perhatian kepada siapapun, dan tentu saja pertama-tama kepada sesama manusia. Perhatian itu dapat berupa sapaan, sentuhan, kehadiran, kebersamaan atau pemberian entah harta benda, uang atau tenaga, dengan kata lain memboroskan waktu dan tenaga bagi yang harus diperhatikan. Kita diingatkan pentingnya pemborosan waktu dan tenaga bagi manusia, dan tentu saja pertama-tama mereka yang dekat dengan kita, entah suami atau isteri, anak-anak, kakak/adik atau rekan kerja, mereka yang hidup dan bekerja bersama dengan kita. Pada masa kini ada kecenderungan orang jual mahal waktu dan tenaga bagi anak-anak kecil selama masa balita, usia 0 s/5 tahun, dimana anak-anak dititipkan pada nenek atau pembantu atau perawat dan orangtua, lebih-lebih ibu, sibuk bekerja demi karier. Aneka pengamatan dan pengalaman menunjukkan bahwa ketika anak-anak pada usia balita kurang perhatian dari orangtua, alias kurang menerima pemborosan waktu dan tenaga dari orangtua, maka perkembangan dan pertumbuhan kepribadiannya tidak wajar, dan ketika mereka dewasa lebih mudah ‘kurang ajar’. Maka dengan ini sekali lagi kami mengingatkan agar anak-anak selama masa balita sungguh memperoleh perhatian dan kasih dari orangtua, terutama dari ibunya, yang telah mengandung dan melahirkannya. Bertindak demikian pada masa kini, lebih-lebih di kota besar, boleh dikatakan sebagai bentuk penghayatan kemartiran.

“Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga. Kesetiaan-Mu dari keturunan ke keturunan; Engkau menegakkan bumi, sehingga tetap ada” (Mzm 119:89-90)

Jakarta, 12 November 2009

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: