Skip to content

31 Okt – Ef 6:10-18; Luk 14:1.7-11

31 Oktober 2009

“Barangsiapa merendahkan diri ia akan ditinggikan. ”

(Ef 6:10-18; Luk 14:1.7-11)

“Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. ” (Luk 14:1.7-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St Afonsus Rodriguez, bruder/biarawan Yesuit, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

• Kerendahan hati merupakan keutamaan dasar, kebalikan dari kesombongan. Orang yang rendah hati pada umumnya cara hidup dan cara bertindaknya senantiasa melayani: menjunjung tinggi, menghormati dan membahagiakan orang lain, sebagaimana dihayati oleh Bruder Alfonsus Rodriguez, yang kita kenangkan hari ini. Bruder Alfonsus Rodriguez hidup dan bertindak sesuai dengan sabda Yesus “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” . Bruder Alfonsus memiliki tugas perutusan utama sebagai penjaga pintu biara, yang berarti siapapun yang bertamu ke biara senantiasa dialah yang pertama kali menemuinya. Dengan penuh senyum dan hormat ia menerima setiap orang yang datang dan pergi. Memang penjaga pintu sedikit banyak menentukan warna pemberitaan dari biara atau komunitas, rumah atau kantor; ia dapat menolak atau menerima setiap orang yang ingin memasuki rumah, biara, atau kantor. Sikap penjaga pintu seperti Satpam atau pembantu rumah tangga dalam menerima tamu hendaknya rendah hati, ceria dan penuh senyum serta hormat. Penjaga pintu ada kemungkinan dimarahi atau dilecehkan oleh para tamu karena alasan apapun, namun demikian hendaknya tetap rendah hati. Dalam pesta-pesta penjaga pintu ruang pesta adalah `penerima tamu’ yang pada umumnya berpakaian rapi, menarik, memikat dan penuh senyum serta hormat, maka juga diusahakan penerima tamu yang cantik atau tampan. Kerendahan hati kiranya tidak hanya bagi para penjaga pintu atau penerima tamu, tatapi kita semua yang menyadari diri sebagai orang beriman.
• “Ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu” (Ef 6:13), demikian nasihat Paulus kepada umat Efesus, yang kiranya juga telah dihayati oleh Bruder Alfonsus Rodriguez. Senjata Allah itu antara lain: kebenaran, keadilan, iman, keselamatan, firman/sabda Tuhan dan doa. Selama bertugas sebagai penjaga pintu dan tiada tugas, yang berarti tidak ada tamu, Bruder Alfonsus Rodriguez tetap bertugas: ketika tidak ada tamu ia berdoa, antara lain berdoa rosario dll. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua sebagai orang beriman atau beragama: marilah kita tidak melupakan hidup doa kita. Para pendoa sejati pada umumnya juga rendah hati, sebaliknya orang sombong pada umumnya tidak pernah berdoa atau tidak dapat berdoa. “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus”(Ef 6:18). Orang kudus adalah orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, yang dipilih oleh Allah. Kita semua adalah yang terpilih oleh Allah, maka hendaknya kita saling mendoakan kapan saja dan dimana saja. Dengan saling mendoakan berarti kita bersahabat satu sama lain dalam Allah, dan dengan demikian kita semua senantiasa dalam rahmat dan berkat Allah sehingga kita mampu “menyelesaikan segala sesuatu” yang ditugaskan atau dibebankan kepada kita. Kita adalah alat-alat Allah dalam karya penyelamatanNya, dan sebagai alat senantiasa tergantung dari pemiliknya, yaitu Allah sendiri. Sebagai alat kita diharapkan memperlengkapi diri dengan senjata-senjata Allah, yaitu kebenaran, keadilan, iman, keselamatan, firman Tuhan dan doa.

“Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka… Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan- Nya; sebab hukum akan kembali kepada keadilan, dan akan diikuti oleh semua orang yang tulus hati”(Mzm 94:12-15).

Jakarta, 31 Oktober 2009

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: