Skip to content

18 Okt – Minggu Biasa XXIX

17 Oktober 2009

Minggu Biasa XXIX

Yes 53:10-11; Ibr 4:14-16; Mrk 10:35-45

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu”

Tua-tua keladi makin tua makin berisi”. Tanaman padi semakin tua, yang berarti berbuah bulir-bulir padi tua dan siap dipanen, semakin ‘menunduk’, sementara itu jika bulir-bulir padi kosong ia tetap ‘menengadah ke atas’. Semakin tambah usia seseorang pada umumnya juga semakin tambah berpengalaman dalam berbagai hal , demikian juga ketika orang semakin naik pangkat atau jabatan atau tambah pangkat dan jabatan, pada umumnya juga semakin tambah berpengalaman. Orang yang memiliki banyak pengalaman memang ada dua kemungkinan, yaitu sombong atau rendah hati. Dalam sabda Yesus hari ini mereka yang semakin besar atau terkemuka hendaknya menjadi pelayan atau hamba bagi semuanya. Hari ini juga menjadi hari Minggu Evangelisasi, ajakan untuk mawas diri perihal semangat missioner kita masing-masing, maka marilah kita mawas diri bercermin pada sabda Yesus atau pesan para penulis Kitab Suci hari ini.

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.”(Mrk 10:43-44).

Yang terbesar dan terkemuka di dalam hidup dan kerja bersama di dunia ini adalah para pemimpin atau atasan. Di dalam Gereja Katolik yang terbesar dan terkemuka adalah Paus dan para Uskup, yang senantiasa menyatakan diri dan berusaha untuk menjadi yang hina dina, berusaha untuk menghayati apa yang diajarkan dan dihayati oleh Yesus, yang “datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45). Para pemimpin atau atasan dalam hidup dan kerja bersama dalam bidang kehidupan macam apapun hemat saya dipilih atau ditunjuk untuk ‘menjadi tebusan bagi banyak orang’ alias berfungsi melayani para anggota atau bawahan, agar mereka bahagia, damai sejatera, sehat wa’afiat lahir dan batin. .

Mereka yang disebut pelayan baik, misalnya pelayan rumah tangga, pada umumnya memiliki ciri-ciri antara lain sebagai berikut: rajin, cermat, cekatan, tanggap, tidak pernah mengeluh atau marah, sehat, dst.., ‘the last but no the least’ adalah senantiasa membahagiakan mereka yang harus dilayani. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan siapapun yang merasa ‘terbesar’ atau ‘terkemuka’ dalam hidup dan kerja bersama untuk bersikap mental melayani dalam melaksanakan tugas-tugasnya atau memfungsikan jabatan atau kedudukannya. Tanda keberhasilan kinerja seorang pemimpin pada tingkat atau ranah hidup dan kerja apapun ialah para anggotanya hidup sejahtera lahir batin, bahagia dan selamat. Jika masih ada anggota atau rakyat yang masih miskin dan berkekurangan, hemat saya hal itu berarti kegagalan pemimpin. Apa yang disediakan oleh Allah di dunia ini cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup semua manusia agar hidup sejahtera, maka ketika masih ada yang kurang sejahtera berarti ada sementara orang yang hidupnya serakah dan berfoya-foya, yaitu mereka yang ‘terbesar’ atau ‘terkemuka’, entah pemimpin atau orang-orang yang kaya akan harta benda atau uang.

Mereka yang terbesar atau terkemuka diharapkan menjadi tebusan bagi banyak orang, artinya berani mengorbankan diri atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui orang banyak yang kena dampak pengaruh cara hidup, kerja dan kebijakan mereka, yang terbesar atau terkemuka. Untuk itu kepada yang merasa terbesar atau terkemuka, kami ajak untuk mendengarkan dan memperhatikan sejauh mana cara hidup dan cara bertindaknya mempengaruhi orang lain: berapa banyak orang yang terpengaruh? Jika ternyata cara hidup dan cara bertindak kita mempengaruhi hidup orang lain menjadi sengsara atau menderita, maka hendaknya kita bertobat atau memperbaharui diri. Kemanapun pergi atau dimanapun berada, mereka yang merasa terbesar dan terkemuka hendaknya “datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani”.

“Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibr 4:15-16)

Semua agama memiliki ‘imam’ atau fungsi sejenis, yang pada umumnya memiliki tugas pokok atau utama untuk memimpin ibadat atau doa bersama. Imam antara lain berfungsi sebagai ‘penyalur’ berkat atau rahmat Allah kepada manusia dan doa-doa, dambaan, harapan manusia kepada Allah. Penyalur yang baik antara lain tidak pernah korupsi sedikitpun, jujur, disiplin, siap menderita, dst., anggota tubuh kita yang kelihatan dan berfungsi sebagai penyalur adalah ‘leher’ atau alat kelamin dan dubur. Makanan, minuman dan udara segar masuk melalui leher dan tidak ada sedikitpun yang ditahan di leher, sebaliknya kotoran berupa kencing atau tinja atau kentot keluar melalui alat kelamin atau dubur, dan ketika telah keluar semuanya dengan baik maka tubuhpun segar rasanya. Bukankah jika anggota-anggota tubuh tersebut sakit dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya berarti tubuh atau orang yang bersangkutan akan sakit dan menderita? Sebaliknya jika anggota-anggota tubuh tersebut berfungsi baik dan norma berarti tubuh atau orang yang bersangkutan sehat, segar bugar.

Orang jujur, disiplin dan tak pernah korupsi sungguh merupakan kasih karunia bagi kita semua, karena orang yang tersebut pasti akan menolong siapapun yang membutuhkan bantuan. Umat beriman juga memiliki cirikhas imamat umum, maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan semua umat beriman untuk setia menghayati imamat umum kaum beriman ini, artinya cara hidup dan cara bertindaknya senantiasa membahagiakan dan mensejahterakan orang lain, hidup dan berjuang demi kebahagiaan dan kesejahteraan umum/bersama. Kita juga dipanggil untuk merasakan kelemahan-kelemahan orang lain, tetapi tidak berbuat dosa, maka hal itu berarti kita saling merasakan kelemahan-kelemahan kita, dan dengan demikian saling menolong.

Hidup jujur, disiplin dan tak korupsi memang sarat.dengan pencobaan-pencobaan atau godaan-godaan, sebagaimana terjadi dalam diri tokoh KPK maupun polisi dan hakim, yang memiliki fungsi utama untuk menegakkan kejujuran dan kedisiplinan. Mereka “sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul “(Yes 53:11). Membenarkan berarti menyelamatkan. Memang ketika penegak hukum membereskan koruptor klas kakap, maka banyak orang diselamatkan; membereskan satu koruptor klas kakap berarti menyelamatkan banyak orang. Maka dengan ini kami berharap kepada orang-orang benar dan penegak hukum untuk terus memberantas korupsi tiada henti, demi keselamatan umum. Koruptor berarti tidak melayani, melainkan menguasai dan memeras, tidak membahagiakan melainkan menyiksa.

“Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita! Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu

(Mzm 33:18-20.22)

Jakarta, 18 Oktober 2009

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: