Skip to content

16 Okt 2009

15 Oktober 2009

“Karena itu jangan takut karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.”

(Rm 4:1-8; Luk 12:1-7)

“Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.”(Luk 12:1-7), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana

sebagai berikut:

• Salah satu penyakit atau kelemahan yang cukup memprihatinkan dan dialami oleh banyak orang adalah `takut’, misalnya: takut tidak naik kelas/lulus ujian, takut mati, takut jatuh, dst.. Orang takut pada umumnya tidak tenang atau tidak tenteram hidupnya, dan dirinya senantiasa merasa terancam, dan dengan demikian juga berusaha pasang kuda-kuda atau mengurung diri. Yang juga cukup memprihatinkan takut berbuat baik atau sosial, karena merasa akan dituduh `cari muka’ atau `cari perhatian’, dst.. Memang kita boleh takut ketika akan berbuat jahat, yang berarti melawan kehendak atau perintah Allah, tetapi ketika hidup dan bertindak sesuai dengan perintah atau kehendak Allah janganlah takut, meskipun harus menghadapi aneka masalah, tantangan, hambatan dan kesulitan, atau bahkan ancaman untuk dibunuh. “Jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit”, demikian sabda Yesus. Yang harus kita utamakan atau dahulukan adalah keselamatan jiwa kita, bukan keselamatan tubuh atau harta benda. Sekiranya karena berbuat baik dan benar, adil dan jujur, kita harus mati dibunuh, percayalah bahwa akan hidup bahagia selamanya di sorga, dan nama kita akan dikenang oleh banyak orang, sebagaimana terjadi dalam diri para pahlawan bangsa atau Gereja, dimana namanya diabadikan untuk memberi nama jalan, nama bandara, nama baptis, dst.. Maka dengan ini kami berharap kepada kita semua untuk tidak takut berbuat baik, adil, benar dan jujur; dan kepada para pejuang kebenaran, keadilan dan kejujuran dimanapun kami harapkan tetap tegar dan percayalah bahwa Tuihan senantiasa menyertai perjuangan atau perjalanan anda.

• “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya” (Rm 4:7-8). Entah telah berapa kali kita melakukan pelanggaran-pelanggaran atau berbuat salah dan berdosa, kiranya tidak ada seorang pun yang dapat mengingat-ingat kembali atau menghitungnya. Jika kita refleksikan kiranya kita dapat percaya bahwa Tuhan tidak pernah memperhitungkan pelanggaran, dosa dan kesalahan kita, melainkan senantiasa mengampuni dan melupakannya. Maka marilah kita tidak terbius oleh aneka pelanggaran, kesalahan dan dosa yang pernah kita lakukan, karena dengan demikian kita pasti akan minder atau takut. Lihat dan hayati aneka pelanggaran, dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan sebagai pelajaran, dan tentu saja kemudian tidak melakukan pelanggaran, kesalahan dan dosa lagi. Sebaliknya kita hendaknya juga tidak mengingat-ingat kesalahan, pelanggaran dan dosa orang lain di dalam hidup sehari-hari. Perhatikan bahwa untuk mengingat-ingat pelanggaran, kesalahan dan dosa sungguh mahal, melelahkan dan menimbulkan balas dendam dan kebencian, sebagaimana terjadi di dalam proses pengadilan. Marilah kita hidup saling mengampuni dan mengasihi, demi kebahagiaan, kesejahteraan atau keselamatan kita semua. Kami ingatkan juga bahwa ketika kita dapat hidup dalam kasih dan pengampunan, alias dapat melakukan apa yang baik, benar, jujur dan adil, hendaknya dihayati sebagai anugerah atau rahmat Tuhan, yang hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Dengan kata lain hendaknya kita senantiasa hidup dan bertindak dengan rendah hati, jauh dari aneka macam bentuk kesombongan.

“Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku” (Mzm 32:5)

Jakarta , 16 Oktober 2009

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: