Skip to content

15 Oktober 2009

15 Oktober 2009

“Kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halangi.”
(Rm 3:21-30; Luk 11:47-54)

“Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka. Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.” Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal. Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.”(Luk 11:47-54), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Teresa dari Avila, perawan dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi merupakan tokoh-tokoh penting dan menentukan dalam hidup bersama: hidup bermasyarakat maupun hidup beragama. Mereka menguasai dan memahami aneka aturan dan tatanan hidup bersama, namun mereka tidak melaksanakannya, sebaliknya ketika umat atau masyarakat mau melaksanakannya dihalang-halangi. Maka dengan keras dan mungkin menyakitkan, Yesus menegor dan mengingatkan mereka, sehingga mereka berusaha menangkapNya. Maka, meneladan Yesus maupun St.Teresa dari Avila, marilah kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan atau Penyelenggaraan Ilahi, yang memang akan menghadapi aneka tantangan dan hambatan. Pada masa kini rasanya cukup banyak orang yang telah dikuasai oleh aneka produk teknologi, seperti alat-alat komunikasi dan sarana-prasarana lainnya, sehingga ketika alat-alat atau sarana-prasarana tersebut rusak atau terganggu menjadi stress atau frustrasi., dengan kata lain cukup banyak orang telah berbakti kepada `berhala-berhala modern’, harta benda atau uang. Dengan dan melalui harta benda atau uang berusaha mengahalang- halangi penegak dan pejuang kebenaran, keadilan dan kejujuran. Dengan atau melalui uang berusaha membelokkan atau memelintir kebenaran-kebenaran hukum maupun fakta. Celakalah mereka yang berusaha melakukan manipulasi atau korupsi; dalam hidup sehari-hari marasa diri tidak aman dan senantiasa berusaha mengamankan diri dengan berbagai bentuk, entah manusia atau harta benda, sehingga mereka lebih percaya pada pengamanan oleh manusia dan harta benda atau uang daripada Tuhan atau Penyelenggaraan Ilahi.
• “Kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat”(Rm 3:28), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Dibenarkan berarti diselamatkan atau dibahagiakan atau disejahterakan. Kita akan selamat, bahagia dan damai sejahtera jika kita sungguh beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Memang dalam hidup sehari-hari kita juga terikat oleh aneka tatanan dan aturan hidup bersama, maka hendaknya dalam iman aneka aturan dan tatanan hidup bersama tersebut kita laksanakan atau hayati, sebagaimana juga dihayati oleh Paulus, “adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya”(Rm 3:31). Apa yang kami ingatkan ini kiranya juga tertulis dalam akta yayasan atau badan hukum publik gerejani, antara lain berbunyi “dalam terang iman kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”. Maka dengan ini kami berharap pada kita semua yang berpartisipasi dalam aneka kegiatan kemasyarakatan untuk menjadi saksi atau teladan dalam pengahayatan aneka tatanan dan aturan hidup bersama, misalnya yang kelihatan adalah aturan berlalu lintas. Korban kecelakaan lalu lintas cukup banyak, dan hal itu terjadi karena orang tidak mentaati atau melaksanakan aturan berlalu-lintas atau berkendaraan. Tertib berlalu-lintas di jalanan hemat saya merupakan cermin bangsa yang berbudaya dan dewasa. Kita juga perlu memperhatikan kesehatan dan kebugaran diri kita masing-masing, maka baiklah kita taati dan laksanakan aneka macam aturan hidup sehat dan bugar, entah dalam hal makanan dan minuman, olahraga, istirahat dst..

“Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan , Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.” (Mzm 130:1-4)

Jakarta, 15 Oktober 2009

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: