Lanjut ke konten

seputar Adorasi

27 September 2009
tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Adorasi dan Simbolisme

Ikut memberi perhatian maraknya devosi, adorasi dan berbagai kumpulan dan kegiatan rohani, maka kami mengulas salah satu segi yang berhubungan dengan itu, yaitu Adorasi atau penyembahan yang kami soroti dari segi simbolisme. Adorasi pada umumnya ditujukan kepada Allah dengan berbagai cara, sesuai dengan adat, budaya serta agama dan kepercayaan. Hal itu tentunya sudah ada sejak jaman purba. Secara khusus bagi gereja Katolik dilakukan dalam hubungannya dengan Sakramen Maha Kudus atau Ekaristi. Dalam ibadat adorasi dilakukan pada kebaktian Pujian atau Astuti, penghormatan dan penyebahan dengan menggunakan monstran; juga ada pada tuguran Kamis Putih. Ada biara kontemplatif yang secara khusus memberi warna devosinya kepada Ekaristi, misalnya Biara Abdi Roh Kudus (SSpS). Dan kini kerasulan awam menyadari luhurnya kebakian ini, lalu mempromosikan adorasi ini. Saya coba untuk menggali asal-usulnya dalam budaya.

I. TEMPAT PENYEMBAHAN DALAM HIDUP
Pada jaman purba kiranya orang belum tentu mengenal Allah sebagaimana kita pada jaman sekarang ini yang sudah terbiasa dengan agama-agama besar dan kepercayaan monotheisme. Pada waktu itu banyaknya orang, suku dan bangsa masih bersifat politheisme, animisme, deisme, henotheisme dll. Namun disitu sudah tersirat adanya kepercayaan kepada penguasa yang tinggi, melebihi semuanya. Hal itu boleh disebut wahyu umum, dimana dengan hati-sanubarinya manusia cakap mengenal Allah, walaupun masih dalam bentuk berbagai tokoh yang berkekuatan amat tinggi. Tokoh yang amat tinggi itu pada umumnya dipercaya berpengaruh dan berkuasa atas semuanya, termasuk mencipta, memelihara, melindungi, mengancam, mengganjar dan menghukum, memberi kemujuran dan kemalangan. (Para) Tokoh itu cukup transenden (adikodrati), jauh diatas; dan pada umumnya kurang akrap dengan kita, sehingga wibawanya cukup menakutkan, menggetarkan. Tokoh-tokoh itu dilambangkan dan digambarkan dengan berbagai nama dan dewa dengan perannya yang dipatungkan. Tokoh-tokoh itu juga dipercaya dalam bentuk atau bersembunyi dalam benda-benda besar: matahari, bulan dan bintang, danau, laut, batu dan pepohonan. Perintah penyembahan Allah itu pada Perjanjian Lama,Kitab Keluaran 20:2-17; dikuatkan oleh Yesus dalam Matius 4:40.

Tampilannya, minim kendaraannya secara negatif sering dihubungkan dengan gejala alam yang dahsyat, seperti kilat, guntur, gempa, banjir, taufan, wabah,
paceklik dll. Secara positif dengan adanya keadaan yang tenteram dan damai’adil dan makmur, cuaca dan musim yang baik, panen yang berlimpah, rejeki yang lancar dll. Maka terjadinya gejala alam itu langsung dihubungkan dengan campur tangannya tokoh yang Maha Tinggi itu. Jika merasa teracam mereka takut dan mawas diri, kiranya telah terjadi kesalahan dan dosa dari manusia, sehingga membuat marah sang penguasa. Sebaliknya jika merasa untung, mereka bersyukur bahwa Sang Penguasa telah memberkati mereka. Untuk menanggapi semua itu mereka mengadakan upacara yang disini biasa disebut selamatan, baik yang besifat syukuran mapun tobatan, atau campuran keduanya. Dalam upacara itulah terdapat bagian tertinggi dari upacara yaitu penyembahan kepada Sang Penguasa. Penyembahan itu dilakukan dengan simbol dan kenyataan, dan perpaduan keduanya. Tempatnya dipilihkan tempat tertinggi, yaitu diatas gunung, lambang menuju surga, tahta Allah. Kemudian sesuai dengan jaman, dimodofikasi dengan tumpukan batu atau kayu, lalu disebut altar artinya tempat tinggi. Dimodifikasi lagi menjadi tempeng atau buceng.

II. SIMBoL, BENTUK DAN CARA
Penyembahan itu diwujutkan atau disimbolkan baik dengan kata-kata, sikap dan prasarana dan suasana.
1. Kata-kata dalam bentuk doa: menyembah, menghormati dan menjunjung tinggi Yang Maha Kuasa; misalnya “YaAllah Yang Maha Tinggi”; “Yang Dewa Sang Penguasa”; “Aku bersujut kepadaMu Yang Maha Tinggi” dll. Selebihnya yang berwujud prasarana, sikap dan suasana menggunakan hal-hal yang bersifat simbol atau lambang. Baik yang merupakan kata-kata, prasarana dll. itu penyembahan mendapat sifat magis (mantra yang mendikte) dan yang memohon. (impetratoris). Maka kita harus waspada jangan terpancing pengaruh yang sangat menjanjikan, karena bisa bersifat magis, yaitu mantra yang memaksa atau mendikte roh yang lebih tinggi untuk memenuhi tuntutannya. Kita harus tetap rendah hati, supaya hanya kehendak Allah yang terjadi. Dalah hal ini gereja mrumuskan bentuk doa dalam 4 tingkat:
(a) Latreutis (penyembahan); misal: “YaAllah Yang Maha Tinggi”.
(b) Eukaristia: ucapan syukur.
(c) Propitiatoris (mohon ampun).
(d) Impetratoris : permohonan (dengan rendah hati)

2. Prasarana, misalnya kurban bakaran; kemenyan, dupa, yosua sepertinya adalah simbol dan miniatur dari kurban bakar pada jaman kuno, dimana asapnya yang sedap dan wangi membubung keatas, supaya berkenan kepada Yang Maha Tinggi. Bentuk ini merupakan persembahan tertinggi yang dilambangkan dengan pengorbanan dari hasil karya terbaik. Karena pada jaman dulu mereka merupakan masyarakat agraris (tani), minim nomad (pengembara), maka persembahan itu berupa hasil tani dan ternak utama dan terbaik; misalnya disini: nasi dalam bentuk tumpeng dan dan panggang ayam; di Timur Tengah berupa roti dan panggang domba. Maka Yesus disebut Anak Domba Allah. Bila korban bakaran masih dirasa terlalu kecil untuk ukuran Yang Maha Tinggi, maka manusia memaksimalkan kurbannya: yaitu manusia sendiri yang harus dikurbankan. Itu tercermin dari sikap Abraham yang mengorbankan Iska, anaknya. Dalam Alkitab hal itu diralat oleh sikap Illahi, yang menggantikan dengan domba. Tetapi anehnya Yesus sendiri kemudian kembali mengorbankan manusia kepada Allah. Bedanya: pada jaman lama: yang dikorbankan ialah orang lain, pada jaman Yesus yang dikurbankan adalah diri sendiri. Inilah segi keiklasan pengorbanan: bukan mengorbankan milik orang lain, tetapi milik dan jerih payanya sendiri; patut direnungkan.

a. Prasarana ini dilakukan dalam upacara resmi. Dalam upacara persembahan itu diunjukkan oleh wakil umat atau imam yang bertugas mendoakan dan menyucikan, yaitu menghunjukkan menyerahkan kepada Allah. Sisa atau bagian dari kurban bakar itu dianggap dan dipercaya telah menjadi berkat Yang Maha Tinggi, yang diterimakan kepada umat. Jadi umat yang memperoleh dan memakan sesaji itu sama dengan memperoleh dan makan berkat dari Yang Maha Tinggi. Bentuk persembahan dan penyembahan ini terjadi pada rangkaian upacara selamatan itu, sehingga pemahamannya menjadi lengkap.

b. Bila sisanya disimpan dan dipuja, sama dengan menyimpan, menghormati memuja Yang Maha Tinggi. Dan penghormatan serta sembah sujut kita (adorasi) masih bisa dilakukan diluar konteks upacara resmi (sakramental) yaitu dengan memuja Allah secara pribadi, keluarga atau kelompok, baik lewat sejaji yang telah disucikan itu (misal: ekaristi) dan benda-benda yang dianggap suci lainnya (patung, jimat, pusaka dll) atau langsung kepada hadirat Yang Maha Tinggi. Maka terkadang seseorang bersemedi dalam kamar, ditempat gelap, keramat sambil membakar kemenyan; terkadang dihadapan patung, salib dengan hiasannya: lilin, bunga dll. Gereja mempunyai upacara khusus yang dulu pernah populer yaitu: Penyembahan kepada Ekaristi Kudus dengan upacara “Pujian”, “Astuti” .

Dan secara pribadi maupun kelompok umat berdoa khusuk didepan tabernakel. Bentuk adorasi ini lebih bersifat devosi daripada sakramental. Mendalamnya devosi dapat mencerminkan mendalamnya kerohanian seseorang. Memang masih harus mempertimbangkan banyak hal, karena manusia mempunyai banyak dimensi. Secara negatif: adorosi tidak sekedar perbuatan; masih ada keiklasan, kemasyarakatan, kuwajiban umum / sakramental. Jadi kepuasan orang untuk beradorasi bisa membuat terlena lupa kepada kuwajiban resminya (sakramental). Secara positif: sebaliknya kesadaran pribadi yang tinggi malah akan menstimulir kerajinan dan kemantapan untuk mengikuti ibadat resmi yang sakramental.. Kedua mampu mengakomodasikan kemampuanya dan kesempatannya yang minim untuk masih khusuk menyembah Allah. Memang kesemuanya membutuhkan keseimbangan. Maka pada masyarakat yang mampu, berusaha mempersembahkan semua itu yang terbaik, termahal, terindah, supaya tercermin, minim secara kasat mata; dan seyogyanya juga secara keiklasan pengorbanan dll. Sebaliknya bagi yang kurang mampu mutu ibadatnya lebih tercermin dari keiklasannya. Tuhan Yesus memuji ini dengan melambangkan persembahan seorang janda yang hanya satu dua peser.

III. SIKAP
1. Sikap lahiriah: menyembah adalah sikap hormat paling tinggi, berarti sikap merendah paling dalam, merasa kecil dan tak berharga dihadapan yang maha Tinggi. Maka pada umumnya orang merendahkan badannya: berlutut, bersila, menunduk, sikap tangan menyembah; merebahkan diri dll. Dalam hal ini adat-budaya dan kebiasaan setempat sangat mempengaruhi. Manusia adalah perpaduan roh dan raga, sehingga penyembahan itu juga merupakan perpaduan sikap jiwa-raga, tak terpisahkan. Namun supaya kita waspada, tidak menjadi hipokrif atau munafik, jangan terlalu menekankan yang lahiriah saja, harus seimbang.

2. Sikap batiriah. Tercermin disikap lahiriah, namun masih lebih dalam lagi. Sikap lahiriah masih mencerminkan tindakan formil, kelayakan ragawi. Sikap batiniah jauh lebih mendalam, dan bila perlu dapat dilakukan tanpa sikap lahiriah seperti di atas. Sembah sujutnya dilakukan dalam hati, dalam roh. Sikap ini penting dan akan mempengaruhi sikap lahiriah juga. Misalnya, ketika seorang beriman bertugas mengirim komuni orang sakit, atau memindahkan ekaristi ketampat lain, ia tidak sekedar membawa, dalam tas, dompet, saku dll, dengan sikap seenaknya. Ia akan mengalungkan dileher / dada, tanda hormatnya. Wadah itu juga terhormat, karena untuk menyimpan kehadiran illahi. Pernah terjadi bahwa piksis wadah ekaristi itu sepulang dari tugas digunakan untuk wadah uang receh. Ini aneh sekali.

IV. SUASANA
Pada umumnya suasana penyembahan adalah sakral, tenang, sunyi. Hal itu merupakan lambang dan cerminan, bahwa yang disembah adalah Roh yang tak kelihatan, Maha Tahu dan Maha Sempurna. Maka untuk menghubungkan roh dan batin kita kepadaNya kita harus meninggalkan dunia ramai, masuk alam gaib, alam rohani dan illahi. Maka suasana sangat mempengaruhi. Maka ruangan yang bersuasana sakral sangat membantu: besar, tinggi, teduh, memusat; dilengkapi dengan prasarana rohani: lilin, patung, bunga dll. Susasana yang mendukung mampu membuat betah para penyembah untuk bertahan lama dan bermeditasi khusuk. Bila ada lagu dan musik, kiranya yang tenang melarutkan, mendukung sikap batiniahnya. Maka pada malam tirakatan kamis putih (dan sejenis itu), lebih khusuk dan mengena, bila ada ketenangan kesunyian, supaya batin dan roh masing-masing dapat lebih konsentrasi. Maka bila kesempatan itu lalu diberi bentuk doa bersama, nyanyi bersama dll, menjadi berkurang seperti pada upacara formil kiranya mendjadi berkurang kedalamannya. Memang bila hal itu sesekali dilakukan untuk menyelingi dan menghilangkan kejenuhan dan kantuk, baik saja. Adorasi yang dilakukan perorangan mempunyai nilai tersendiri. Beberapa para Kudus, rajin dan betah beradorasi di dalam gereja didepan tabernakel. Kecakapan mendalam ini ada pada bakat manusia biasa juga. Dalam keadaan kepepet atau mempunyai cita-cita yang amat luhur, ada orang yang mampu dan iklas untuk berlama-lama mengadakan adorasi kerakyatan, didalam kamar, gua, tempat sunyi dll, baik menggunakan prasarana seperti lilin, bunga dan dupa didepan salib, patung Yesus dll. untuk menyembahAllah secara mendalam. Dan Tuhan Maha Tahu dan maka Kasih tak lama lagi memberikan Roh KudusNya kepada mereka dalam bentuk yang sesui dengan tuntutan hidupnya pribadinya. Tentu tindakan ini secara iman katolik ada yang mleset atau salah, karena mereka, sejauh pengetahuan dan pemahaman mereka menujukan sembah sujutnya itu kepada roh (roh-roh), yang lebih bersifat animistis dll. bahkan dengan bahasa yang magis. Semoga kita tidak keliru lagi.

MEMANDANG YESUS DALAM MoNSTRANS

BAGAIMANAKAH praktek doa adorasi Ekaristi itu? Pertanyaan sederhana dari umat yang belum pernah masuk ruang adorasi dan berdoa bersama Yesus selama satu jam di sana, kiranya dapat kita jawab dengan satu bentuk aktivitas doa yang sederhana, yakni “Memandang Yesus” yang ditakhtakan di monstrans. Memang kita bisa memilih aneka buku doa untuk Adorasi Ekaristi, namun perlulah kita memahami pula makna “Adorasi” itu sendiri seperti kita baca dalam tulisan Romo Dicky Rukmanto, Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Surabaya. Tulisan “Merawat Rasa Misteri” oleh penulis yang sama akan memperdalam pemahaman dan praktek berliturgi dan berdevosi Ekaristi di Keuskupan kita.Cerita pengalaman umat di kota Surabaya setidaknya sempat menjadi sorotan dua frater projo dari Seminari Tinggi Interdiocesan Giovanny Malang yang sedang nyantrik di komisi-komisi Keuskupan pada awal bulan Juli 2008. Tulisan mereka dapat kit abaca dalam “Adorasi Ekaristi di Keuskupan Surabaya” (oleh Fr. Yanuar) dan cerita tentang “Tubuh Kristus” (oleh Fr. Dwi).Seperti biasanya, setiap penerbitan Media Liturgi kami siapkan rubrik Inkulturasi Budaya yang diempu oleh Romo Donatus Suwaji CM. Dalam edisi ini beliau menyoroti “Adorasi dan Simbolisme” yang direfleksikan dalam konteks budaya Jawa.
Kegiatan Komisi Liturgi Keuskupan Surabaya pada bulan April sd Juli 2008 dapat Anda simak dalam laporan yang dihimpun oleh Ibu Maria C. Romeo dalam bentuk kronik. Aneka foto kegiatan kami dapat Anda lihat dalam halaman tengah berwarna. Tak lupa kami suguhkan pula “Beberapa Catatan Bina Petugas Liturgi di Paroki-Paroki” dalam bentuk Tanya Jawab. Semoga bermanfaat.Akhirnya, kembali kepada pengalaman berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus sebagai bentuk Devosi Ekaristi, marilah kita mengikuti ajakan Santa Theresia dariAvila untuk tidak hanya “berpikir banyak, melainkan mencinta banyak” dalam praktek Adorasi Ekaristi ini. Marilah dengan setia dan tekun memandang Yesus yang ditaahtakaan di monstran dengan penuh cinta:
Memandang-Mu terus-menerus, Yesus Membuat diriku berubah Hal ini membuatku dapat mengikuti-Mu dengan mudah…

praktek adorasi
Perlulah di sini dihadirkan pembahasan mengenai adorasi terutama menyangkut target pemahaman dalam tiga poin berikut. Misteri apa yang tersimpan dan hendak disingkap dalam dan oleh praktek adorasi? Apa isi batin adorasi? Ekspresi atau bahasa liturgis macam mana yang seharusnya lahir dari batin pelakunya?
Tanpa maksud menyajikan proses pelacakan historis, biblis dan teologis secara tersendiri, kami berharap bahwa dengan mengarahkan pemahaman kepada makna, visi dan semangat dasar adorasi, sebagai implikasinya, umat dapat mempraktekkan adorasi dengan sujud menyembah Tuhan “dalam roh dan kebenaran” (Yoh 4:24).

A. KILAS HISToRIS
Menemukan jejaknya pada abad ke-2, praktek adorasi populer dalam abad pertengahan. Ketetapan Konsili Trente (1551) tentang dogma transubtantia, yakni bahwa konsekrasi dalam Ekaristi yang dilakukan imam ex opere operato, dalam dan atas nama Kristus, sungguh mengubah kodrat roti dan anggur menjadi sungguh tubuh dan darah Kristus, telah berperan penting dalam meneguhkan dan memperluas praktek devosi kepada Sakramen Mahakudus. Ketetapan Magisterium Gereja tsb. sangat digerakkan iman akan sabda Kristus sendiri dalam perjamuan malam terakhirNya, “Ambillah, makanlah, inilah tubuhKu” dan kemudian, “Minumlah kamu semua dari cawan ini. Sebab inilah darahKu” (Mat 26:26-28; Mark 14:22-24; Luk 22:19-20; lihat juga 1 Kor 14:23-26; bdk Yoh 6:35 tentang “Akulah roti hidup”). Paulus IV dan Yohanes Paulus II adalah dua paus dari era reformasi Vatikan II yang dikenal sangat menganjurkan praktek penghormatan kepada Sakramen Mahakudus, , terutama melalui ensiklik keduanya, Mysterium Fidei (1965) dan Dominicae Cenae (1980). Katekismus Gereja Katolik (art. 1330) bahkan menyebutnya sebagai the Sacrament of sacraments. Sangat tepatlah karena itu mendiang Paus Yohanes Paulus II, dalam kotbahnya pada Kongres Internasional Ekaristi di Sevilla, Spanyol, Juni 1993, berkata, “Saya berharap bahwa buah dari Kongres ini menghasilkan pengadaan Adorasi Ekaristi Abadi di semua paroki dan komunitas kristiani sampai ke seluruh dunia.”

B. MEMBANGUN CITA RASA ADoRASI
Agar dapat mencerna pemahaman dasar dan menikmati cita rasa adorasi, beberapa kutipan biblis berikut perlu dibaca berulang. Biarkan roh bacaan suci menyelinap di relung pengertian. Rasakan emosi pemazmur. Nikmatilah aroma kebesaran TUHAN Allah. Satukan hati bersama pemazmur dalam fokus gagasan sujud menyembah.

1) Mazmur 95:1-7 Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN,bersorak-sorai bagi gunung batu keselamatan kita.Biarlah kita menghadap wajahNya dengan nyanyian syukurbersorak-sorai bagiNya dengan nyanyian mazmur.Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah.Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tanganNya,puncak gunung-gunung pun kepunyaanNya.KepunyaanNya laut, Dialah yang menjadikannya,dan darat, tanganNyalah yang membentuknya.Masuklah, marilah kita sujud menyembah,berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaanNya dan kawanan domba tuntunan tanganNya.

2) Mazmur 96:9 Sujudlah menyembah kepada TUHANdengan berhiaskan kekudusan,gemetarlah di hadapanNya,hai segenap bumi.

3) Mazmur 99:5 Tinggikanlah TUHAN, Allah kita,dan sujudlah menyembah kepada tumpuan kakiNya! Kuduslah Ia! Coba, simak pula kekuatan iman akan Tuhan yang tersamar dan hadir dalam roti sakramen mahakudus, seperti disampaikan St. Thomas Aquinas dalam himne Adoro te devote, Aku sembah sujud di hadapan-Mu Tuhan yang tersamar hadir di sini Hanya rupa roti tertampak kini Namun aku yakin akan sabda-Mu Pancainderaku tak menangkapnya Namun aku yakin akan sabda-Mu Sebab hanya Sabda Allah Putera Kebenaran mutlak tak tersangkalkan

Benar, pengertian adorasi sebagai ibadah sembah sujud berakar pada sikap iman mengakui kebenaran Allah yang mahabesar. Adorasi digerakkan oleh sikap batin merasa kecil dan kepatutan untuk tunduk di hadapan Tuhan. Ekspresinya nampak dalam sikap tubuh sujud menyembah Allah yang mahakuasa.

C. PENGERTIAN ADoRASI
Sesuai dengan makna yang hendak ditunjukkan oleh asal kata Latin adorare (adore, Inggris) yang diberlakukan kepada Tuhan, adorasi merupakan perbuatan ibadah, menyembah dan memuja. Secara teologis, adorasi ditujukan hanya kepadaAllah semata (Luk 4:8), dilakukan dengan rasa takut akan TUHAN (Kel 6:13) dan dalam kesadaran diri kecil di hadapanNya. Sepantasnyalah adorasi dihayati dalam afeksi hormat dan cinta. Pada level kedalamannya, adorasi hanyalah sujud menyembah semata, tanpa kata.Adorasi dengan demikian merupakan ungkapan dan sekaligus buah dari adanya pengakuan akan eksistensi Allah dengan segala prestasi karya-karyaNya yang baik.
Dalam praktek sekarang, adorasi merujuk pada ibadah penghormatan kepada Tuhan yang sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus, diselenggarakan dalam atau di luar perayaan Ekaristi. Di luar perayaan Ekaristi, ibadah serupa itu dapat dilakukan secara pribadi maupun komunal.

D. VISI ADORASI
Pemahaman yang benar akan adorasi menuntut adanya kesadaran tentang tiga konstituen pokok yang turut membangun visi adorasi: misteri iman yang tersimpan dan hendak disingkap, isi batin pelaku devosi, dan ekspresi atau bahasa liturgis yang menyertainya.

1. MISTERI IMAN DALAM ADoRASI
Dalam adorasi tersimpan misteri iman yang hendak disingkap dan ditunjukkan (ingat monstrans, bermakna dasar yang menunjukkan), yakni Kristus Sakramen Allah yang sempurna, Putra tunggal Bapa yang sehakikat dengan Dia dan Roh Kudus, Verbum caro factum est, Sabda yang telah menjadi manusia (misteri inkarnasi) dan tinggal di antara manusia sebagai Emanuel, Mesias yang diutus Allah untuk mewartakan kabar keselamatan bagi dunia, Sang Anak Domba Allah yang bertindak serentak sebagai Imam Agung Perjanjian Baru dan kurban bagi penebusan dosa manusia, Gembala Agung yang mengorbankan tubuh dan darahNya di atas salib, Sakramen kasih Allah.

2. ISI DAN SEMANGAT BATIN (PELAKU) ADORASI
Isi batin dari pelaku adorasi merujuk pada sikap nurani yang mengakui, tunduk-sujud-menyembah eksistensi Alah dalam segala kekuasaan dan kebaikanNya.

PENGAKUAN AKAN EKSISTENSI DAN KEBESARAN TUHAN adalah isi batin utama dari setiap tata laku adorasi. Pengakuan menyatakan perbuatan iman (credo) bahwa Allah benar ada, dan manusia, seperti ungkapan Thomas, mengakuiNya secara personal sebagai benar-benar “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28). Pengakuan itu mengingatkan perjanjian Israel dengan Yahwe, bahwa Israel mengakui dirinya sebagai umatNya danYahwe adalahAllah mereka. Sebagai ciptaanNya, dan dalam kesadaran telah disatukan dengan Kristus dan GerejaNya dalam Baptis, orang kristiani mengakui diri sebagai anak-anak Allah dan milik Kristus mempelai Gereja.

Adorasi menyatakan penyerahan diri (surrender) dan ketundukan manusia kepada Allah. Allah dihayati terutama dalam kemahabesaranNya, baik dalam realitas eksistensiNya maupun dalam karya-karyaNya yang tersebar dalam jejak jaman dan hidup. Ia adalah pencipta dan penyelenggara agung alam semesta dan manusia adalah makhluk ciptaanNya.

Setiap pengakuan akan kemahabesaran Tuhan disertai sekaligus dengan penyadaran diri bahwa manusia kecil di hadapan Tuhan yang mahabesar. Karena itu, adorasi mengajak selalu untuk mempraktekkan pengosongan diri agar Allah semakin meresapi kita dan meraja dalam diri kita. Dalam adorasi, terasa aroma kyrie, kita disadarkan akan kerapuhan manusia akibat dosa.Adorasi menyadarkan bahwa agar dapat melepaskan diri dari kuasa dosa dan maut, dibutuhkan pertobatan dan bantuan rahmat Allah, dan … dengan terus bertekun berjaga (vigilia). Adorasi mendorong tumbuhnya cinta dalam memandang Dia (kontemplasi) dan mendengarkan SabdaNya.Adorasi, untuk selanjutnya, mendorong pelakunya berkeinginan kuat untuk melaksanakannya, tinggal selalu di dalam persatuan dengan Tuhan, hidup semakin menyerupai Dia.

Adorasi mengandung keyakinan bahwa kehidupan, keselamatan dan kebahagiaan sejati tersembunyi di dalam realitas Sakramen Mahakudus. Ia yang ditampakkan secara samar olehnya sungguh diakui merupakan jalan, kebenaran dan hidup. Adorasi meyakinkan bahwa kita yang berasal dari kesatuan dengan Allah akan kembali juga ke hadiratNya dalam keabadian. ii SEMBAH SUJUD merupakan ekspresi dan buah dari pengakuan iman akan eksistensi dan kebesaran Tuhan. Dalam bahasa fisik, sujud menyembah ditampakkan oleh perbuatan bersujud dengan meletakkan kepala hingga ke tanah.
Sikap tubuh ini ditampakkanAbraham (Kej 18:20) ketika menyambut tiga malaikat utusan Yahwe, Ketika ia [Abraham] mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya.Sesudah dilihatnya mereka,ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka,lalu sujudlah ia sampai ke tanah

Bahasa fisik menunjukkan sebenarnya maksud hati dan tujuan kehendak untuk tunduk hanya kepada Tuhan sebagai hamba, milik dan insanNya. Sembah sujud merupakan perwujudan paling tampak dari bahasa hati dan batin, dan sudah seharusnya dinyatakan dengan segenap afeksi dan sepenuh jiwa. Di sana ada ungkapan hormat, terbalut dalam ketenangan jiwa dan berpendar dalam aroma khusuk. Bahasa tubuh serupa itu menjadi ekspresi seharusnya dari sikap batin yang ingin menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24).

PENINGGIAN merupakan bentuk ekspresi terbalik dan tak terpisahkan dari sikap sembah sujud. Peninggian, meskipun tidak akan menambahkan apa pun pada Allah – karena dalam diriNya Ia sudah sempurna, merupakan bentuk pengagungan iman (anamnese), suatu luapan kegembiraan atas Allah(exultet), suatu madah atas karya-karya agung Tuhan dalam jaman dan hidup manusia (magnificat) yang mengalirkan semangat jiwa untuk memuji (salve) dan memuliakan Tuhan dalam energi gloria yang penuh.

3. BAHASA LITURGI
Bahasa Liturgi dalam adorasi pada dasarnya mengungkapkan baik misteri iman yang tersimpan maupun isi dan maksud batin pelaku. Berikut ini ada sejumlah perbuatan liturgis yang biasa dipakai dalam tata pokok devosi pada Sakramen Mahakudus.

i. Prosesi
Prosesi mengungkapkan misteri Allah ADA. Ia hadir dalam peredaran waktu dan jaman. Ia menyejarah dan menyapa manusia. Penyelenggaraan ilahi terjadi dalam konteks jaman. Saat prosesi, sikap batin yang sepantasnya dibangun ada-lah mengakui dalam roh dan kebenaran. Sikap tubuh yang layak adalah tunduk, hormat.

ii. Pentahtaan
Pentahtaan adalah momen pewahyuan ilahi, saat Allah membuka lebih luas siapa diriNya kepada manusia dan menyediakan diriNya untuk dijumpai umat-Nya. Ini merupakan saat Tuhan mengundang manusia agar memandang dengan cinta, mendengarkan dengan gairah, mencerna dengan budi dan merasakan-Nya dalam batin. Bahkan, bagi manusia, pentahtaan merupakan saat yang benar untuk menikmati misteriNya. Sikap batin yang seharusnya dibangun para pelaku adorasi adalah rindu mengenal Dia, haus dan lapar akan Dia, peka dan terbuka, keheningan kontemplatif. Sikap tubuh yang pantas adalah duduk tenang sambil berdoa batin. Bagi umat, ini adalah waktu terbaik untuk berbincang pribadi dengan Tuhan dalam keheningan nurani.

iii. Pujian
Pujian dengan ritus kata menyatakan maksud batin meninggikan, memuliakan dan memuja Allah dalam eksistensiNya dan dalam kebesaran perbuatan-perbuatanNya yang besar. Pada kesempatan ini, yakni pada adorasi komunal, doa Salve biasa didaraskan dengan sikap tubuh berlutut. Dalam adorasi pribadi
Magnificat Maria (Luk 2:46-55) bisa digunakan, bahkan dapat menjadi inspirasi untuk menyusun doa batin pribadi sesuai konteks hidup pribadi. Sikap tubuh yang baik adalah duduk atau berlutut dengan mengangkat kedua tangan terbuka, siku paling tidak sejajar dengan bahu.

iv. Berkat
Berkat menyatakan kuasa dan kebaikan Allah yang berkenan memberikan rahmat dan karuniaNya kepada manusia. Berkat diberikan melalui pelayanan imam. Sikap batin yang seharusnya dikembangkan dalam menerima berkat adalah bersyukur penuh kegembiraan. Sikap tubuh yang pantas adalah berlutut dengan tubuh membungkuk,kepala menunduk dan kedua telapak tangan bersatu di depan dada. Dalam adorasi pribadi, sikap ini dapat digantikan dengan tunduk menyembah sempurna hingga kepala dan kedua tangan menyentuh lantai; dapat dilakukan sebagai salam hormat untuk membuka atau pun hormat syukur untuk menutup adorasi pribadi.

Sedikit penjelasan di atas diharapkan dapat memberi inspirasi umat dalam meluangkan waktu berharganya untuk beradorasi pribadi secara benar dan dalam semangat roh memuji kebesaran dan kebaikan Allah dalam hidup sehari-hari. Karena itu, tidak ada waktu yang lebih berharga daripada menemui Dia di sana: dalam penyembahan, dalam kontemplasi dengan penuh iman, dan siap untuk memberi silih bagi kesalahan besar dan ketidakadilan yang ada di dunia
(Yohanes Paulus II, surat Dominicae Cenae, art. 3).

Gereja kita dikenal memiliki banyak cara untuk mengungkapkan iman dalam kehidupan rohani. Salah satu dari yang banyak itu adalah Adorasi Ekaristi. Sebagian umat mungkin masih bertanya-tanya tentang bentuk devosi ini. Apa itu Adorasi Ekaristi? Adakah bentuk-bentuk lain devosi Ekaristi selain adorasi? Lalu, apa komentar mereka yang setia dengan Adorasi Ekaristi ini? Apa manfaat yang mereka peroleh?

MEMAHAMI ADORASI EKARISTI
Gereja kita rupanya cukup kaya akan bentuk-bentuk devosi berkaitan den-gan Ekaristi. Bentuk-bentuk devosi tersebut dapat dilaksanakan secara komunal maupun pribadi, misalnya kunjungan kepada Sakramen Mahakudus (visitation sanctissimi), perarakan Sakramen Mahakudus, danAdorasi Ekaristi. Segala bentuk devosi tersebut sebenarnya hendak mengungkapkan iman umat beriman kepada Yesus Kristus yang dalam Ekaristi dalam rupa roti dan anggur. Dengan demikian, Ekaristi tetap menjadi puncak dan sumber kehidupan Gereja (SC 10).
Adorasi Ekaristi sendiri merupakan kegiatan umat beriman berupa suatu doa atau ibadat di hadapan Sakramen Mahakudus. Ada pula yang menyebut Adorasi Ekaristi ini dengan salve atau astuti. Istilah-istilah tersebut merujuk pada suatu kegiatan pujian atau kebaktian kepada Sakramen Mahakudus. Unsur yang penting dalam Adorasi adalah sembah sujud karena dalam doa ini kita sujud menyembah Kristus.
MunculnyaAdorasi Ekaristi tentu saja tak bisa lepas dari keseluruhan sejarah munculnya aneka bentuk devosi Ekaristi. KemunculanAdorasi Ekaristi bermula dari kerinduan umat untuk memandang Kristus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus. Praktik doa ini berkembang sejak abad XIV-XVI di Negara-negara Eropa.

ADORASI EKARISTI ABADI
Adorasi Ekaristi Abadi merupakan kegiatan berdoa di hadapan sakramen Mahakudus secara terus menerus. 24 jam sehari, selama 7 hari dalam seminggu dan seterusnya. Praktik Adorasi Ekaristi Abadi ini dalam Gereja Katolik dikenal sebagai gerakan kaum awam. Merekalah yang terlibat langsung untuk melaksanakan dan mengurus devosi ini meskipun Adorasi Ekaristi Abadi juga diperuntukkan bagi siapa saja.
Munculnya Adorasi Ekaristi Abadi seolah mau menjawab kerinduan umat beriman untuk sepanjang waktu melakukan sembah sujud dan menyatukan hati dengan Tuhan Yesus Kristus. Selain itu, kiranya praktik Adorasi Ekaristi Abadi yang berkembang dalam dua dekade terakhir ini juga memenuhi harapan Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI akan munculnya Adorasi Ekaristi Abadi di berbagai tempat di seluruh dunia. ADoRASI EKARISTI DI KEUSKUPAN SURABAYA
Banyak paroki di Keuskupan Surabaya yang secara rutin mengadakan Adorasi Ekaristi. Bahkan, sudah dua tahun ini Adorasi Ekaristi Abadi berlangsung di Keuskupan Surabaya, tepatnya di kota Surabaya. Bermula dari Rekoleksi Adorasi yang dipimpin oleh Father Douglas Harris PP tanggal 13 Mei 2006, benih-benih kerinduan untuk melaksanakan Adorasi Ekaristi abadi yang ada di hati umat di Surabaya seakan mendapat siraman air segar dan dukungan untuk tumbuh dan berkembang.

Dari peristiwa itu kemudian bermunculan tempat-tempat Adorasi Ekaristi abadi di wilayah Surabaya. Pada mulanya Adorasi Ekaristi abadi bertempat di Kapel Rumah Sakit Katolik St. Vincentius a Paulo (RKZ) Surabaya. Kemudian, ketika ketika rumah adorasi telah siap, dibukalah Pusat Spiritualitas (PUSPITA) Keuskupan Surabaya di Jl. Dharmahusada Permai XII/5 blok N-403 Surabaya. Antusiasme umat untuk berpartisipasi dan berkomitmen setia dalam menjalankan Adorasi Ekaristi abadi di kedua tempat tersebut ternyata cukup tinggi. Ratusan umat menyatakan kesanggupannya untuk melakukan Adorasi Ekaristi sesuai waktu yang dikehendaki dan disepakati. Mereka meluangkan satu jam dari kehidupan mereka untuk berjumpa dengan Tuhan melalui Adorasi Ekaristi. Selain kedua tempat tersebut, masih ada lagi tempat lain untuk menjalankan Adorasi Ekaristi, yaitu di Paroki Redemptor Mundi Surabaya dan Paroki Sakramen Mahakudus Surabaya.

Kesetiaan untuk melakukanAdorasi Ekaristi tampak dari penuturanAgustina Mainah, karyawati RKZ, yang mengungkapkan bahwa dengan meluangkan waktu setiap hari untuk berjumpa dengan Tuhan dalam Sakramen Mahakudus ia memperoleh ketenteraman rohani. “Setiap kali melakukan adorasi saya merasa sangat dekat dengan Tuhan. Di situ saya senantiasa memohon agar Tuhan membantu saya menyelesaikan persoalan dan beban hidup keluarga saya,” tuturnya. Hal senada juga diungkapkan oleh Caecilia dari Paroki Redemptor Mundi Surabaya. Ia sungguh merasakan keakraban dengan Tuhan ketika melakukan Adorasi Ekaristi. Ia juga merasakan bahwa Tuhan banyak berkarya dalam hidupnya semenjak ia bertekun dalamAdorasi Ekaristi ini. Menurut pengakuannya, Adorasi Ekaristi kini telah menjadi suatu kerinduan dalam dirinya.

Kisah yang cukup menarik disampaikan oleh Novita, petugas jaga di Kapel RKZ Surabaya. Ia mengungkapkan bahwa peminatAdorasi Ekaristi ternyata bukan hanya umat Katolik saja.Ada beberapa jemaat gereja lain yang mengikutiAdorasi Ekaristi karena mereka tidak menemukannya di gereja mereka. Selain itu, ia juga sempat mendengarkan kisah dari beberapa orang yang mengalami kesembuhan dari berbagai penyakit setelah berdoa atau didoakan melalui Adorasi Ekaristi. “Ketika liburan, kadang kala saya merasakan kerinduan untuk kembali bertemu dengan Tuhan dalam sakramen Mahakudus melalui adorasi,” ungkap perempuan yang berasal dari Klepu, Ponorogo ini.

Memang ada banyak komentar dan tanggapan di antara umat beriman mengenai Adorasi Ekaristi ini. Banyak dari antara mereka yang telah merasakan manfaatnya. Namun, terlepas dari itu semua kita ingat lagi undangan dari Tuhan sendiri, “ Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu dengan Aku?” (Mat 26:40).
Sanggupkah kita memenuhi undangan-Nya?

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: